Beranda/Blog/KUR & Pembiayaan
KUR & Pembiayaan 7 menit baca8 Juli 2025

7 Alasan Dokumen KUR UMKM Ditolak Bank dan Cara Mengatasinya

Ini 7 alasan paling umum pengajuan KUR UMKM ditolak bank BRI, BNI, dan Mandiri — beserta cara mengatasinya agar pengajuan berikutnya berhasil.

Mengapa Banyak Pengajuan KUR Ditolak?

KUR (Kredit Usaha Rakyat) adalah program pemerintah dengan bunga rendah (6% per tahun) yang ditujukan untuk UMKM. Namun kenyataannya, banyak pengajuan ditolak bukan karena usahanya tidak layak — tapi karena dokumen yang diserahkan tidak memenuhi standar penilaian analis kredit bank.

Berikut 7 alasan paling umum dan cara mengatasinya:

1. Tidak Ada Laporan Keuangan Sederhana

Bank menilai kemampuan bayar dari arus kas usaha. Tanpa catatan keuangan — sekecil apapun — analis kredit tidak bisa menghitung DSC (Debt Service Coverage) ratio.

Solusi: Siapkan laporan laba rugi sederhana 6 bulan terakhir. Tidak harus pakai software akuntansi — catatan buku harian pun sudah cukup, asalkan konsisten dan masuk akal.

2. Rencana Penggunaan Dana Tidak Jelas

Menulis "untuk modal usaha" saja tidak cukup. Analis ingin tahu dengan detail: beli apa, berapa unit, dari mana, kapan.

Solusi: Tulis rencana penggunaan dana secara terperinci dalam tabel. Contoh: "Pembelian mesin jahit industrial 2 unit × Rp 5.000.000 = Rp 10.000.000".

3. DSCR di Bawah 1,0x

DSCR (Debt Service Coverage Ratio) adalah rasio kemampuan bayar: laba bersih dibagi angsuran. Bank umumnya mensyaratkan DSCR minimal 1,2x — artinya penghasilan bersih harus 120% dari angsuran bulanan.

Solusi: Hitung kemampuan angsuran maksimal dari laba bersih bulanan. Jika laba bersih Rp 3.000.000/bulan, angsuran maksimal aman = Rp 2.500.000/bulan.

4. Riwayat Kredit Bermasalah

BI Checking (sekarang SLIK OJK) langsung terlihat oleh bank. Kredit macet sebelumnya — termasuk kredit konsumer seperti kartu kredit atau cicilan HP — bisa menjadi penolakan otomatis.

Solusi: Cek SLIK OJK secara mandiri sebelum mengajukan di ojk.go.id. Jika ada tunggakan, lunasi dulu dan tunggu minimal 3–6 bulan sebelum mengajukan KUR.

5. Legalitas Usaha Tidak Lengkap

KUR membutuhkan bukti usaha sudah berjalan minimal 6 bulan. Tanpa NIB (Nomor Induk Berusaha), SIUP, atau setidaknya SKU (Surat Keterangan Usaha) dari kelurahan, pengajuan langsung gugur.

Solusi: Urus NIB via OSS (oss.go.id) — gratis dan bisa selesai dalam 1 hari. SKU dari kelurahan biasanya bisa diurus dalam 1–2 hari.

6. Proposal Usaha Terlalu Umum

Proposal yang isinya generik ("usaha ini menguntungkan karena banyak peminat") tidak meyakinkan analis. Bank ingin melihat analisis pasar lokal, keunggulan kompetitif, dan proyeksi yang realistis.

Solusi: Tulis proposal yang spesifik: sebutkan lokasi strategis usaha, siapa kompetitor di sekitar, berapa omzet rata-rata per hari, dan mengapa usaha ini bertahan bahkan di masa sulit.

7. Proyeksi Cashflow Tidak Realistis

Proyeksi yang menunjukkan kenaikan omzet 300% setelah dapat KUR tanpa penjelasan logis justru membuat analis skeptis. Bank lebih suka proyeksi konservatif yang masuk akal.

Solusi: Buat proyeksi kenaikan omzet 20–40% setelah KUR (bukan 200%) dengan penjelasan konkret: kapasitas produksi bertambah berapa persen, target pasar baru di mana, dll.

Siapkan Dokumen KUR yang Kuat dengan Dokumin

Menyusun proposal usaha, laporan keuangan, proyeksi cashflow 12 bulan, dan surat pernyataan untuk KUR bisa memakan waktu berminggu-minggu jika dilakukan dari nol. Dokumin menghasilkan seluruh paket dokumen KUR — 5 dokumen sekaligus — berdasarkan data usaha yang Anda masukkan melalui form wawancara singkat.

Buat dokumen bisnis Anda dalam menit

Dokumin menghasilkan RAB tender, kontrak legal, dan paket KUR secara otomatis — sesuai format resmi Indonesia.

Coba Gratis — 3 Dokumen